Setiap kita pasti merasakan kekecewaan dengan kondisi Universitas tertua di dunia saat ini, bahkan kondisi ini tidak hanya membuat kita kecewa, akan tetapi sebagian besar diantara kita ada yang menyesal telah mendaftarkan dirinya di Universitas Azhar. Dan pada akhirnya hal inilah yang melegalkan sebagian dari kita untuk lebih memilih bermalas-malasan dari pada berusaha untuk sabar ketika berinteraksi dengan namanya Azhar. Akan tetapi ikhwah fillah rahimakumullah, hal ini sepenuhnya tidak bisa dikatakan benar, artinya seorang yang bijak adalah bagaimana ia bisa bangkit setelah jatuh, orang yang bijak adalah orang yang bisa merubah suasana dan kondisi menjadi seperti apa yang ia kehendaki, seorang yang cerdas adalah bagaimana ia berusaha dan terus berusaha dan bekerja dengan keras untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dengan segenap kemampuan dan potensi positif yang dimiliki. Orang yang cerdas dan kreatif adalah bagaimana ia bisa merubah keadaan atau potensi negatif yang memberikan sinyal kepesimisan menjadi sebuah potensi positif yang selalu memancarkan cahaya keoptimisan, pada akhirnya memberikan ia semangat dan kekuatan baru untuk selalu bangkit, aktif dan berproduktif. Kita semua sudah mengerti bahwasannya kesempatan untuk belajar di Azhar merupan sebuah nikmat yang besar yang mesti kita syukuri. Diantara bentuk syukur nikmat tersebut yaitu bagaimana kita bisa memanfaatkan segala kesempatan serta kelebihan yang ada di Azhar khususnya, dan di Mesir pada umumnya. Tenaga pengajar berlimpah luah, yang dengan ikhlas siap untuk mengajar kita. Bangunan cukup megah bisa melindungi kita dari terik panas cahaya matahari dan melindungi kita dari dinginnya udara disaat musim dingin tiba. Tidak seperti sekolah Muhammadiyah Bentong yang hanya memiliki dua atau tiga guru, serta bangunan yang sudah tidak layak untuk ditempati oleh manusia, apalagi para penentut ilmu. Akan tetapi itulah sebuah keterbatasan dan kekurangan yang ada. Akan tetapi dengan keterbatasan dan kekurangan yang ada hal tersebut tidak membuat sepuluh siswa SD putus harapan, bahkan dengan keadaan tersebut membuat mereka tersenyum yang memberikan sinyal keoptimisan akan cerahnya masa depan. Optimis dengan keberhasilan dan kesuksesan. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman anak kampung Belitung tersebut yang selalu semangat untuk menuntut ilmu meskipun dengan kekurangan dan keterbatasan. Jarak jauh tidak menjadi alasan lintang untuk tidak bersekolah, bahkan ia menjadi anak pertama yang mendaftarkan diri di sekolah tersebut. Sikap pesimis dan ejekan dari orang sekitar tidak menyurutkan Ikal untuk tetap bersekolah. Miskinnya sekolah tidak menyurutkan sang Mahar seniman cilik untuk selalu berkaya memajukan serta mengharumkan nama sekolah. Cacat mental sekalipun tidak menjadi penghalang untuk menuntut ilmu sebagaimana yang dilakukan Harun. Bahkan ketika Pak Harpan wafat, kemudian Bu Muslimah pun sudah putus asa untuk mengajar, sepuluh laskar pelangi tersebut tidak kehilangan semangat bahkan tetap dan terus bersekolah dibawah bimbingan dan arahan serta semangat yang selalu dikobarkan Lintang anak pesisir yang malang. Sehingga keadaan tersebut membuat Bu Muslimah terharu, menangis bahagia dan bangga dengan sepuluh murid didikannya, bahkan keadan menjadi berubah, keoptimisan, semangat yang tinggi menjulang menjadikan mereka seakan –akan melihat cahaya masa depan yang gemilang bak warna-warna pelangi yang indah. Oleh karena itu setelah kejadian itu mereka mengatakan kami akan berangkat menuju pelangi…… Tidak berlebihan ketika kita melihat keadaan tersebut serta membandingkan dengan keadaan yang ada didepan kita, maka kita temukan nikmat yang begitu besar yang mesti kita syukuri. Benar banyak hal yang tidak kita sukai dan senangi di Azhar. Banyak sekali kekurangan- kekurangan menurut pandangan kita sehingga kita tidak suka, tidak bahagia bahkan tidak bangga belajar di Azhat universitas tertua dunia. Membuka pembicaraan masalah ini, nahly hanya mengingatkan kita-kita semua dengan firman Allah
عسى أن تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه خيرا كثيرا.
Dalam coretan sederhana ini, nahly ingin mengajak para ikhwah untuk menatap masa depan yang merupakan harapan, melihat keadaan saat ini yang merupakan kenyataan dan keniscayaan, serta menoleh kebelakang yang merupakan sebuah pengalaman yang sarat dengan hikmah dan pembelajaran. Kita sadari kita tidak bisa untuk merubah Azhar menjadi seperti yang kita inginkan, akan tetapi kita bisa merubah diri dan keadaan menjadi seperti yang kita impikan. Mari kita pimpin perubahan diri dan keadaan sehingga keberhasilan dan kesuksesan tidak hanya sebuah impian dan angan-angan, akan tetapi ia menjadi sebuah kenyataan, hangat cahayanya, terang sinarnya bisa kita rasakan pada saat ini hingga masa depan. Wahai saudaraku bangkitlah, harapan itu masih ada insyaAllah.
Jangan lari dari permasalahan !
Yang dimaksud di sini adalah jangan sampai kita meninggalkan sebuah permasalahan tanpa solusi, contoh menurut mahasiswa asing diantara penyebab malas untuk aktif muhadarah adalah karena para dosennya berbicara dengan bahasa A'miyah. Opini yang ada saat ini adalah muhadarah tidak menghasilkan manfaat , karena saya tidak paham apa yang disampaikan dosen. Oleh karena itu dari pada muhadarah lebih baik saya ….?????..........sekilas pernyataan ini benar adanya, akan tetapi kalau dicermati lebih dalam maka pernyataan ini sarat dengan nilai-nilai kepesimisan, kegagalan dan kelemahan tekad dalam menyongsong perubahan serta membunuh harapan untuk sebuah keberhasilan dan kesuksesan. Bagaimana tidak, kita sepakat a'miyah sebuah permasalahan, kita berharap sekiranya para dosen-dosen mengajar dengan menggunakan bahasa fushah. Kemudian kita sepakat akan urgensi muhadarah itu sendiri baik itu orientasinya untuk memudahkan kita dalam memahami muqoror, atau memudahkan kita untuk menjawab soal ujian nantinya, intinya banyak sekali manfaat dari kita aktif muhadarah. Artinya harapan akhir kita adalah bisa merasakan ahamiyah dan halawahnya muhadarah baik dengan amiyah ataupun dengan fushah. Dalam kasus ini solusi ada ditangan kita dan dosen. Solusi eksternal dari dosen sulit untuk dijadikan harapan, karena sebagaimana yang kita tahu, para dosen sulit sekali untuk merubah lisan amiyah menjadi fushah ketika muhadarah, ketika diingatkan mereka langsung merubah amiyah menjadi fushah, akan tetapi beberapa menit bahkan detik berikutnya mereka kembali kepada bahasa amiyah, bahkan ada diantara dosen yang ketika diminta berbicara fushah ia menjawab sudah berapa tahun kamu tinggal di Mesir belum paham-paham lagi dengan Amiyah?". Kesimpulannya solusi perubahan dari dosen sulit untuk diharapkan. Jadi didepan kita hanya tinggal satu solusi yaitu diri kita sendiri, pertanyaannya bagaimana kita merubah keadaan dan memberikan solusi dalam permasalahan ini? Ingat tujuan akhir kita dalam permasalahan ini adalah bagaimana kita aktif dan akhirnya merasakan ahamiyah dan halawah dari muhadarah baik dengan amiyah ataupun fushah. Meninggalkan muhadarah karena tidak paham amiyah bukanlah jalan keluar, bahkan sikap tersebut menjadikan kita lari dari permasalahan yang ada dan menjadikan masalah tetap ada dan kita tidak sanggup untuk menghilangkanya. Oleh karena itu solusi yang tepat dan bijak adalah kita tetap aktif muhadarah yang berbahasa amiyah meskipun pada awalnya kita mengalami kesulitan dalam memahami, akan tetapi itu adalah awal dari proses pembelajaran dan pelatihan sekaligus jalan keluar dari permasalahan yang ada. Jalan keluar ini memberikan buah yang berharga bagi kita, yaitu selain tujuan kita tercapai bahkan diwaktu yang bersamaan kita juga mendapatkan keterampilan dalam memahami amiyah plus fushah yang kita sayangi. Maka dari itu nahly mengajak kepada para ikhwah untuk sebisa mungkin aktif dalam muhadarah. Cobalah masuk ke kelas dengan semangat yang tinggi dan harapan yang meluas dan katakana" aku siap untuk mengalahkan amiyah". Ada beberapa langkah yang mesti kita lakukan dalam menjalankan solusi ini sehingga menjadi lebih efektif dan efesien sehingg kita merasakan ahamiyah dan halawahnya muhadarah,
Pertama, kalau bisa materi yang akan disampaikan oleh dosen pada hari esok sudah kita baca sekilas, sehingga ada bayangan materi yang akan dijelaskan oleh dosen. Selain itu, manfaatnya kita insyaAllah telah paham sebagian yang kita baca, kemudian kita juga sudah tahu bagian mana dari kitab yang kita belum dipahami, mudah-mudahan ketika muhadarah melalui penjelasan dosen Allah menganugerahkan pemahaman itu.
Kedua, usahakan kita duduk pada kursi terdepan, atau kalau bisa didepan dosennya, sehingga kita lebih bisa menyerap apa yang akan disampaikan, dan keuntungan lainnya ya mudah-mudahan dosennya mendapat hidayah untuk menjelaskan dengan fushah karena melihat muka-muka kita. Terakhir keuntungannya juga kita akan dikenali dosennya, dan menjadi sebuah jalan bagi kita untuk dekat dan bisa berkomunikasi langsung di luar jam muhadarah.
Ketiga , usahakan untuk aktif ketika muhadarah, maksudnya aktif yang positif bukan negatif . misalnya dosen aktif menjelaskan kita juga aktif bicara sesama teman kita. Beranikan diri untuk berbicara kepada dosen ketika kita tidak paham, dan katakana dengan sopan dan penuh adab,
يا الدكتور بعد إذنكم أو لو سمحتم أن تعيد الشرح تلك النقطة...........
. Yakinlah tanpa kita meminta dengan fushah ketika itu juga dosen akan menjelaskan kepada kita dengan fushah, dan memberikan perhatian sepenuhnya kepada kita seakan-akan muhadarah antara kita berdua saja. Perlu diingat ketika kita meminta gunakan bahasa fushah, jangan sampai kita menggunakan amiyah. Akan tetapi dalam poin ini kita jangan terlalu berlebihan pula, karena kadang-kadang mahasiswa Mesir juga akan merasakan ketidaksenangan ketika ada diantara mahasiswa lainnya yang banyak omong atau komentar atau pertanyaan kepada dosen ketika muhadarah. Kemudian, usahakan ikuti penjelasan dosen dengan mencatat kata-kata kunci disamping materi yang sedang dijelaskan. Artinya, para dosen biasanya menjelaskan dengan bahasa dan uslub yang sedikit berbeda dengan yang di buku. Bahkan bisa jadi ada perbedaan yang jelas antara bahasa dosen dengan bahasa kitab. Inilah beberapa langkah awal kita untuk menjadikan diri kita sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi sebagian besar Masisir. Memang itu semua tidak mudah, butuh perjuangan dari kita, butuh azimah yang membaja dari hati kita, butuh kerja keras dan cerdas dari akal pikiran, kaki tangan, serta seluruh anggota badan kita. insyaAllah dengan menjalankan langkah-langkah ini kita akan mencapai tujuan kita yaitu merasakan amahiyah dan halawah dari muhadarah. Setelah merasakan amahiyah dan halawah dari muhadarah, yakinlah dengan taufik Allah kita akan mengatakan Muhadarah saat ini bukan kewajiban saya sebagai mahasiswa, akan tetapi muhadarah adalah kebutuhana saya sebagai mahasiswa muslim Indonesia. Any way by the way, apa-apa saja amahiyah dan halawah dari muhadarah?. Sebelum menjawab pertanyaan ini, nahly teringat dengan perkataan para dosen ketika muhadarah, hampir semua dari para guru kita mengatakan bahwasannya muhadarah yang saat ini kita jalankan adalah diantara majalis ilmi yang diberkahi Allah Swt. Artinya muhadarah di kuliah tidaklah berbeda dengan muhadarah-muhadarah yang ada di masjid-masjid atau majalis-majalis ilmi lainnya. Oleh karena itu bisa kita bagi ahamiyah dari muhadarah menjadi dua yaitu ahamiyah a'mah dan khassah.
Ahamiyah a'mmah
Pertama, aktif muhadarah berarti kita telah menunaikan kewajiban agama khususnya kita sebagai mahasiswa. Hadits Rasulullah Saw,
طلب العلم فريضة على كل مسلم، وفى رواية على كل مؤمن.
Kedua, aktif muhadarah berarti kita telah berada di dalam jalan menuntut ilmu yang akan mengantarkan kita menuju jalan ke surga, Sabda rasulullah Saw.
من سلك طريقا يبتغى فيه علما سلك الله به طريقا إلى الجنة.
Ketiga, dengan muhadarah kita mendapatkan sakinah, rahmah, dan dekapan malaikat
عن أبى هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " وما اجتمع قوم فى بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم، إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة، وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده..
Tidak hanya itu, orang yang sedang menuntut ilmu agar menjadi alim karena Allah akan mendapatkan kelebihan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw,
وإن الملائكة لتضع أجنحتها رضاء لطالب العلم، وإن العالم ليستغفر له السماوات ومن فى الأرض، حتى الحيتان فى الماء، وفضل العالم على العبد كفضل القمر على سائر الكواكب، إن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما، إنما ورثوا العلم فمن أخذه به أخذ بحظ وافر.
Terakhir, yang pasti dengan muhadarah yang keikhlasan hati, kecerdasan akal pikiran, serta kerja keras seluruh anggota tubuh lainnya, insya Allah perbendaharan ilmu kita juga menambah, kita akan mendapatkan pengetahuan baru, atau dengan muhadarah kita mengingat kembali apa yang telah kita lupa, atau membenarkan pemahaman kita yang salah.
Ahamiyah khassah
Pertama, kita telah menunaikan diantara kewajiban kita sebagai mahasiswa.
Kedua, dengan aktifnya kita dalam mengikuti muhadarah, itu akan meningkatkan kemampuana bahasa fushah kita, yaitu ketika diantar dosen yang menjelaskan dengan fushah. Atau menambah keterampilan kita dalam memahami amiyah, yang disaat yang sama kita telah menghilangkan diantara sebab kita malas untuk aktif dimuhadarah ( yaitu tidak paham amiyah ).
Ketiga, dengan muhadarah, memudahkan kita untuk menguasai serta menaklukan muqarar.
Keempat, dengan muhadarah yang didahului dengan langkah-langkah diatas, seperti membaca sebelum penjelasan dosen dan membaca kembali yang telah dibaca dan di syarah oleh dosen dll. Insya Allah Akan meringankan persiapan tempur kita di medan imtihan.
Kelima, dengan muhadarah kita mempunyai peluang besar untuk mendapatkan nilai yang lebih. Itu karena setiap dosen menjadikan muhadarah wasilah untuk memberikan nilai plus, oleh karena itu ketika muhadarah hampir semua dosen memberikan penjelasan tambahan yang tidak ada di buku, atau menyebutkan contoh tertentu lalu mengatakan sekiranya diminta dalam ujian, maka tulis contoh yang saya sebutkan. Atau di saat muhadarah sebagian dosen mengatakan "muhadarah hari ini sangat penting tolong kuasai dengan benar".
Ikhwah fillah inilah diantara amahiyah amah dan khassah dari muhadarah, kalalaulah seperti itu adanya, maka dapat kita katakana muhadarah bukanlah sebuah kewajiban, akan tetapi sebuah kebutuhan. Pemahaman dan keyakinan akan hal tersebut menjadi motifasi atau penggerak kita untuk aktif muhadarah, menghilangkan potensi malas, bahkan puncaknya kita akan merasa malas untuk tidak aktif, kita merasakan penyesalan ketika tidak bisa hadir dalam muhadarah, kita merasakan marah ketika ketinggalan penjelasan dosen, kita akan berusaha sekuat mungkin untuk selalu bisa mengikuti muhadarah. Kecuali kita benar-benar dalam keadaan mudarat yang tidak ada jalan keluar lagi. Puncaknya ketika kehilangan kesempatan untuk muhadarah, kita akan merasakan kehilangan sesuatu yang berharga yang kita miliki. Selamat mencoba, selamat berjuang, selamat menuju kemenangan dan keberhasilan.
0 komentar:
Catat Ulasan